Tuesday, February 16, 2016
hatiku
Apakah kamu tahu bagaimana sulitnya menutup telinga ketika hati ingin mendengar? Aku tahu dan itu membuatku tak lagi menjadi diriku. Kututup telingaku rapat-rapat. Kupikirkan segala macam alasan untuk menangkal apapun yang masuk ke telingaku. Kukosongkan otakku agar tak ada yang bisa masuk dan tak ada yang bisa keluar. Kupejamkan mataku, berharap kegelapan akan menolongku dari rasa itu. Kubernyanyi dalam diam sehingga aku hanya akan menggumam lirik selanjutnya.Tapi semuanya luluh lantak. Saat hatiku memberontak untuk mendengar apa yang dia ingin dengar, mencaci otakku yang dipenuhi kebisingan, menenangkan jantungku agar dia berdetak lebih tenang, memaksaku membuka mata untuk melihat realita, berteriak agar ragaku diam dan tidak mengacaukan segalanya.
Kupikir hatiku telah membeku. Karena aku menyuruh otakku untuk membuatnya tak lagi berfungsi, membuatku menjadi orang yang tak berperasaan, tak lagi memikirkan sekitarnya ataupun diriku sendiri. Ternyata, hatiku bukan membeku, dia hanya ingin di ketuk dengan kekerasaan dengan keakuratan millimeter. Yang membuatnya kembali berpacu. Menghancurkan dinding pertahanan yang sudah kubuat sedemikian rupa. Mungkin hanya ada retakan padanya. Tapi aku tak tahu, sampai kapan dia akan bertahan.
Tak pernah tahu. Sakit kepalaku tak pernah sebanding dengan perasaan tak jelas ini. Sehingga satu-satunya jalan hanya mematikan fungsi tubuhku secara sementara. Sehingga aku tak perlu khawatir akan detik berikutnya dalam kehidupanku...
Saturday, January 23, 2016
Kaleidoskop
Melihat kehidupan bagiku seperti melihat berbagai bentuk abstrak melalui kaleidoskop. Semuanya tergantung dari segi mana aku melihatnya, sudut mana aku memutarnya, menuju mana aku menjangkaunya. Setiap sisi mempunyai bentuknya sendiri, ceritanya sendiri, warnanya sendiri. Tapi yang pasti tidak pernah dalam bentuk yang pasti. Sama seperti kehidupan, tergantung dari mana aku melihatnya, maka itulah yang aku jalani. Saat ini.Mungkin alangkah baiknya kalau aku bisa belajar dari caraku melihat dengan kaleidoskop. Meskipun aku tahu apa yang ada di hadapanku, begitu aku melihat dengan kaleidoskop, dunia ini menjadi begitu menarik dan berbeda. Dada ini berdesir melihat begitu banyak paduan warna yang abstrak. Membuat pola-pola indah dan rumit. Dengan tak sabar, aku akan memutar-mutar kaleidoskop itu. Berusaha mencari paduan bentuk dan warna yang lain.
Sama seperti kehidupan ini. Mengapa aku terlalu sering melihat dari satu sisi? Apakah karena hidup ini terlalu membosankan? Tidak semenarik dunia dalam sebuah kaleidoskop? Mengapa aku tak mencari-cari cara lain agar kehidupan ini terlihat abstrak dan menarik? Sehingga hari demi hari akan aku lalui dengan desiran semangat mencari bentuk yang baru, pola yang baru?
Padahal mata ini adalah kaleidoskop hatiku. Tetapi dia tertutup debu. Debu halus yang terus menerus menumpuk. Membuatku jarak pandangku tak lagi sejernih dulu. Dulu saat aku melihat kehidupan dengan kaleidoskop mata hatiku. Dulu ketika aku melihat kehidupan dengan semangat menggebu.
Ah.... Aku menunggu, waktu dimana aku bisa menemukan kembali kaleidoskopku. Yang akan menemaniku melihat kehidupan dengan 1001 macam bentuk dan rupanya...
Sunday, October 25, 2015
waktu berlari
Mereka bilang aku harus berlari, karena pada dasarnya manusia itu selalu berjalan.
Mereka bilang bila aku tidak berlari, maka aku akan tertinggal.
Tertinggal dari apa tanyaku?
Tertinggal dari segala semuanya yang terlalu cepat berlalu.
Ya, saat ini semuanya terlalu cepat berlalu.
Terutama waktu.
Padahal waktu tak pernah lari menggebu.
Tapi mengapa aku merasa waktu meninggalkanku di masa lalu?
Sunday, August 2, 2015
The One
Find a man who can share hobby with you, either hobby of yours or his. After looked at the couples at my wild water kayak training last week. I really thought about it. I think, it is really good to have someone you love on your side to share with what you like to do. He can be your partner, you can be his student or his teacher. Even when thing going worse, you can see it as things to learn about your partner. You can laugh, learn, have fun or even feel angry to each other. But still, it will be another memory to remember.![]() |
| copyright of @Sebastian |
Jealous? Of course! Kekekeke :) I don't have (yet) a partner (in crime) who can share our hobbies. A man who can lead me to another adventurous life that I never know before, bring me to some new places, teach me about something new to learn, etc....
So will I find one? 




Saturday, August 1, 2015
Kaze Hikaru
The wind has no color or shape.
You only know of its existence by looking at a swaying
blades of grass.
Without grass even the wind would lose sight of itself.
So you have to sway more and...
Show the wind that,
"This is your home."
Monday, July 27, 2015
Perpisahan Seorang Teman
Semua berjalan begitu cepat. Bahkan waktu yang melaju dengan stagnan, terasa begitu menggesa. Sengaja aku kerjakan semuanya di akhir waktu. Karena bagiku semuanya tak lebih dari isapan jempol. Tapi saat kenyataan datang padaku, memporakporandakan semua imajinasiku. Aku kembali ke alam sadarku. Aku harus bergerak. Sekarang, demi temanku. Demi kenangan dan memori yang pernah ada pada kami. Aku dia dan yang lain.
Semua selalu kembali ke asal. Yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya dekat menjadi jauh, yang tadinya terasa biasa menjadi luar biasa. Begitu pun sebaliknya. Jadi, apalah yang harus dilakukan selain merelakan semua?
Memang tak ada air mata yang menetes saat kugoreskan kata. Mengapa? Karena aku tergesa-gesa. Membuat raga, hati dan pikiranku sibuk, agar bisa kutuntaskan semua.
Meskipun selalu pada akhirnya hanya ada penyesalan akan ketidakpuasan yang telah kulakukan, tapi setidaknya aku tak perlu ikut larut dalam pikiranku yang menjadi liar. Mencari kebohongan dalam kenyataan. Yang pada akhirnya kembali lagi pada hukumNya. Perpisahan tak pernah jauh dari pertemuan. Begitupula sebaliknya.
Insyaallah kita akan dipertemukan kembali. Dimanapun itu.
Thursday, July 23, 2015
About you
Rasa-rasanya ingin aku tertawa geli. Berharap seseorang berubah setelah sekian lama tidak berbicara dan menghadapi kenyataan bahwa seorang dia ternyata tidak berubah, sama sekali. Mungkin ternyata atau pada kenyataannya sifat seorang manusia memang susah berubah. Meskipun waktu terus berjalan, menggerus sedikit demi sedikit umur yang entah kapan akan habis masanya.
Entah mengapa, setiap kali berbincang dengannya, yang kurasakan adalah keputusasaan akan kehidupan. Perasaan tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Perasaan iri saat melihat kehidupan orang lain, atas pekerjaannya , atas materi yang dimilikinya, dan lain sebagainya.
Jikalau dia dan aku adalah teman. Maka seharusnya aku merasakan bagaimana perasaan yang selalu kurasakan dengan teman-temanku yang lain saat berbicara. Mereka membuatku merasa, bahwa apapun itu, mereka ada untukku, meskipun jarang berbicara satu sama lain, setidaknya aku merasa aku diperhatikan, kabarku mereka benar-benar ingin tahu, mereka bercerita apapun, sepersekian detik mungkin waktu yang kami habiskan, tapi tak pernah sepersekian milli detik aku merasa bahwa mereka hanya menggunakan aku sebagai alat.
Lain bila aku berbicara dengan dia. Pada akhirnya, aku selalu merasa, bahwa aku adalah sebuah alat, yang mungkin akan dia pakai, suatu saat nanti, untuk memenuhi apa yang menurutnya akan membuat dia bahagia.
Teman yang baik adalah teman yang begitu kau gunakan dia sebagai alat. Dia tidak pernah merasa kau gunakan sebagai alat. Karena dia ikhlas. Karena ternyata salah satu fungsi teman adalah saling mendukung satu sama lain, saling menggunakan satu sama lain, dan saling-saling lainnya. Tanpa merasa tebebani. Tanpa merasa pamrih. Itulah kamu saat bertemu dengan temanmu yang sebenar-benarnya.
Mungkin bukan maksudnya berbuat seperti itu kepadaku. Atau mungkin hanya aku yang ternyata terlalu sensitif atas hal-hal seperti itu. Tapi, rasa-rasanya selalu materi yang dia tanyakan padaku, bertanya kabar hanya untuk sekedar kalimat pembuka, basa-basi.
Sayangnya aku tak pernah bisa berbicara lepas dengannya. Entah mengapa. Ingin rasanya aku mengingatkan jika dia tidak bisa mengubah situasi, maka ubahlah dulu sikap dan perilaku diri kita sendiri. Money won't make you happy, even when you think that your happiness is to have a lot of money. People like us, indeed need money. But you don't need to be a millionaire to have a happy life. Work hard, play harder. Why not? Don't (always) compare what another people has with what you have. Because everybody have their own road. Be ambitious but not be a greedy guy! Of course never think that you are more miserable than other people. Because there is always more miserable people than you in reality.
I hope you can grow up to be a better and wiser man not be just an old man. :)Do not speak about your money in front of a poor person.Do not speak about your health in front of a sick person.Do not speak about your power in front of a weak person.Do not speak about your happiness in front of a sad person.Do not speak about your freedom in front of a prisoner.Do not speak about your children in front of an infertile person.Do not speak about your father in front of an orphan."Because their wounds cannot bear more."
* Tapi mungkin semua itu kembali kepadaku. Sebelum ku mengkritik dia, ada baiknya bila aku mengkritik diriku sendiri....

