Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts

Wednesday, May 25, 2016

Doa Segelas Bubble Tea

Suatu saat aku betanya padanya. apa yang dia inginkan di hari ulang tahunnya yang ke 12. Dia hanya diam sesaat sebelum menjawab, " Sebetulnya aku pun tak tahu apa yang kumau dan apa lagi yang kubutuhkan karena  aku sudah memiliki apa-apa yang aku inginkan pun aku sudah puas dengan apa yang aku punya sekarang." Lalu dengan nada bercanda aku pun berkata," Kalau begitu cukuplah aku traktir kamu minum bubble tea!" Dia pun menjawab dengan riang, " Gute Idee! "


Sepertinya kembali tiba saat dimana seorang yang jauh lebih tua belajar cara merasa cukup dari seorang remaja belasan tahun. Saat dimana bila ada yang bertanya mau diberikan apa, enggak aji mumpung, minta ini dan itu. Hadiah hanya salah satu bagian dari cara menunnjukan rasa kasih sayang kepada yang kita cintai, apapun bentuknya, apapun harganya...


Tetapi entah mengapa, aku rasa dia menginginkan sekedar hadiah. Mungkin kalau aku jadi dia, aku hanya ingin kembali ke masa lalu, kembali mengulang waktu, menarik semua sendu dan rindu dan mengumpulkannya menjadi satu.


Ah... Mungkin selain segelas bubble tea, aku pun akan mengiringkan sebuah doa untukmu, agar kamu mendapatkan kebahagianmu sendiri, tanpa atau dengan keluargamu. Aamiin.


***Kalau dipikir-pikir lagi, dia itu unik, mana ada remaja jaman sekarang yang kalau dikasih segelas bubble tea buat hadiah ulang tahunnya bisa seriang gembira itu ^^

Monday, July 27, 2015

Perpisahan Seorang Teman

Semua berjalan begitu cepat. Bahkan waktu yang melaju dengan stagnan, terasa begitu menggesa. Sengaja aku kerjakan semuanya di akhir waktu. Karena bagiku semuanya tak lebih dari isapan jempol. Tapi saat kenyataan datang padaku, memporakporandakan semua imajinasiku. Aku kembali ke alam sadarku. Aku harus bergerak. Sekarang, demi temanku. Demi kenangan dan memori yang pernah ada pada kami. Aku dia dan yang lain.

Semua selalu kembali ke asal. Yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya dekat menjadi jauh, yang tadinya terasa biasa menjadi luar biasa. Begitu pun sebaliknya. Jadi, apalah yang harus dilakukan selain merelakan semua?

Memang tak ada air mata yang menetes saat kugoreskan kata. Mengapa? Karena aku tergesa-gesa. Membuat raga, hati dan pikiranku sibuk, agar bisa kutuntaskan semua.

Meskipun selalu pada akhirnya hanya ada penyesalan akan ketidakpuasan yang telah kulakukan, tapi setidaknya aku tak perlu ikut larut dalam pikiranku yang menjadi liar. Mencari kebohongan dalam kenyataan. Yang pada akhirnya kembali lagi pada hukumNya. Perpisahan tak pernah jauh dari pertemuan. Begitupula sebaliknya.

Insyaallah kita akan dipertemukan kembali. Dimanapun itu.

Thursday, July 23, 2015

About you

Rasa-rasanya ingin aku tertawa geli. Berharap seseorang berubah setelah sekian lama tidak berbicara dan menghadapi kenyataan bahwa seorang dia ternyata tidak berubah, sama sekali. Mungkin ternyata atau pada kenyataannya sifat seorang manusia memang susah berubah. Meskipun waktu terus berjalan, menggerus sedikit demi sedikit umur yang entah kapan akan habis masanya.

Entah mengapa, setiap kali berbincang dengannya, yang kurasakan adalah keputusasaan akan kehidupan. Perasaan tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Perasaan iri saat melihat kehidupan orang lain, atas pekerjaannya , atas materi yang dimilikinya, dan lain sebagainya.

Jikalau dia dan aku adalah teman. Maka seharusnya aku merasakan bagaimana perasaan yang selalu kurasakan dengan teman-temanku yang lain saat berbicara. Mereka membuatku merasa, bahwa apapun itu, mereka ada untukku, meskipun jarang berbicara satu sama lain, setidaknya aku merasa aku diperhatikan, kabarku mereka benar-benar ingin tahu, mereka bercerita apapun, sepersekian detik mungkin waktu yang kami habiskan, tapi tak pernah sepersekian milli detik aku merasa bahwa mereka hanya menggunakan aku sebagai alat.

Lain bila aku berbicara dengan dia. Pada akhirnya, aku selalu merasa, bahwa aku adalah sebuah alat, yang mungkin akan dia pakai, suatu saat nanti, untuk memenuhi apa yang menurutnya akan membuat dia bahagia.

Teman yang baik adalah teman yang begitu kau gunakan dia sebagai alat. Dia tidak pernah merasa kau gunakan sebagai alat. Karena dia ikhlas. Karena ternyata salah satu fungsi teman adalah saling mendukung satu sama lain, saling menggunakan satu sama lain, dan saling-saling lainnya. Tanpa merasa tebebani. Tanpa merasa pamrih. Itulah kamu saat bertemu dengan temanmu yang sebenar-benarnya.

Mungkin bukan maksudnya berbuat seperti itu kepadaku. Atau mungkin hanya aku yang ternyata terlalu sensitif atas hal-hal seperti itu. Tapi, rasa-rasanya selalu materi yang dia tanyakan padaku, bertanya kabar hanya untuk sekedar kalimat pembuka, basa-basi.

Sayangnya aku tak pernah bisa berbicara lepas dengannya. Entah mengapa. Ingin rasanya aku mengingatkan jika dia tidak bisa mengubah situasi, maka ubahlah dulu sikap dan perilaku diri kita sendiri. Money won't make you happy, even when you think that your happiness is to have a lot of money. People like us, indeed need money. But you don't need to be a millionaire to have a happy life. Work hard, play harder. Why not?  Don't (always) compare what another people has with what you have. Because everybody have their own road. Be ambitious but not be a greedy guy! Of course never think that you are more miserable than other people. Because there is always more miserable people than you in reality.


Do not speak about your money in front of a poor person.
Do not speak about your health in front of a sick person.
Do not speak about your power in front of a weak person.
Do not speak about your happiness in front of a sad person.
Do not speak about your freedom in front of a prisoner.
Do not speak about your children in front of an infertile person.
Do not speak about your father in front of an orphan.
"Because their wounds cannot bear more."
I hope you can grow up to be a  better and wiser man not be just an old man.  :)



* Tapi mungkin semua itu kembali kepadaku. Sebelum ku mengkritik dia, ada baiknya bila aku mengkritik diriku sendiri....

Saturday, February 15, 2014

The Beginning of Quarter Life Crisis

I'm 25 years old girls oops... woman now. Being twenty something tanpa impian yang nyata alias pikiran ngawang, iman yang terus bergoyang kesana kemari,  tanpa ( belum ada )gelar di belakang nama, masalah kesehatan itu-itu juga (gigi bolong, dsb), pekerjaan tidak tetap yang mulai terasa membosankan, kuliah yang itu-itu saja, membuat saya cuma bisa bengong sambil kebawa mimpi di siang bolong. Setengah nightmare, setengah mimpi gak jelas.

Apa yah yang harus saya lakukan? Resolusi belum di buat, sedikit kena post traumatic syndrome, karena tiap buat resolusi, begitu dilihat, dibuka dan diteliti di akhir tahun cuma bisa mesem-mesem sendiri ngelihat bagaimana resolusi saya terkubur hidup-hidup dari gemerlapnya hidup saya ( gemerlap versi saya loooh, bukan versi anda-anda sekalian ).

 Setahun berlalu dan saya telah memakai sisa umur yang terus tergilas waktu, detik demi detik yang kadang saya tidak hargai, terbuang bagai membakar uang di depan mata sambil cekikikan sendiri, soalnya saya tahu waktu lebih mahal dari uang tetep aja uang yang di dahuluin, begitu ada uangnya malah dibakar sia-sia. Hadeeuhhhh TT_TT , ini perumapamaan paling gak banget di tulisan ini sepertinya.

Sudah setahun berlalu, meninggalkan kenangan-kenangan yang ingin saya kubur dalam-dalam atau kenangan-kenangan yang hanya meninggalkan bisikannya saja atau bahkan kenangan yang membekas di hati. Apapun itu, seharusnya saya bersyukur karena saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan hal-hal yang bisa menjadi kenangan, yang bisa saya jadikan pelajaran, yang bisa membantu saya untuk tidak menjadi manusia bodoh yang melakukan kesalahan-kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Ahhhhh kenangan, sayang saya punya penyakit psikologis hati  yang namanya short memory loss syndrome , bukannya gak mau saya sembuhin, tapi sengaja di pelihara buat bikin alasan-alasan nyata.

Terlepas dari semua itu, apa resolusi terbesar saya untuk saya yang berumur 25 tahun ini?
  • Saya ingin jadi sarjana
  • Saya ingin punya uang banyak imageimageimage
  • Saya ingin iman yang stabil, bukan naik turun kayak roller coaster ( mending roller coaster, sempet naik sempet turun, lah kalau di bawah terus? Mandeg kali Wi namanya imageimageimage )
  • dan lain lain.
Doakan yaaaaaaaaaa imageimageimage


Menu syukuran kemarin dulu itu temanya Makasar, jadi saya membuat coto makasar isi jeroan ( babat dan hati ) dan daging sapi plus es pisang ijo yang maknyuusssssss. Dapet kue red velvet juga dari Sari :))

>> My 25th Birthday presents from my beloved ones, kekekke, I'm 25 years old girl who still got birthday presents <<


Buat yang kangen sama Berlinerinen...





Thank you and love you ...

God gave us the gift of life; it is up to us to give ourselves the gift of living well.~Voltaire~


Wednesday, October 2, 2013

Saatnya Menerima

Tak ada yang perlu diperdebatkan, ketika salah satu pihak tak bisa menerima.
Tak ada yang perlu dipaksakan, ketika salah satu pihak berbeda pendapat.
Tak ada pula yang perlu dibenarkan, ketika kebenaran bukan hanya sekedar hitam atau putih.

Kita satu, mereka satu, saya satu, kamu satu.
Dalam sebuah kesatuan pula terbuat kemajemukan.

Saya bertanya, kamu menjawab,
Kamu bertanya, saya menjawab.

Saya, kamu, kita dan mereka punya seribu satu jawaban.
Saya, kamu, kita dan mereka punya seribu satu alasan.

Ketika saya tak bisa lagi menerima, maka sudah berhentilah!
Ketika saya tak siap menerima, kamu tak siap menerima, mereka menolak dan kita berbeda,
maka sudahlah!

Tuesday, August 20, 2013

even when a definition of friendship is not to share the smallest happiness, i'm still a loner, with or without all of you. kekekeekeke

Search This Blog